Buku Murah hingga Galeri Arsip, Mini Festival Literasi Balikpapan Jadi Ruang Belajar dan Berkarya
POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN: Suasana berbeda terasa di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan pada awal September 2026. Buku-buku dengan harga terjangkau, aktivitas pelajar, hingga berbagai kegiatan literasi mewarnai pelaksanaan Mini Festival Literasi Balikpapan.
Digelar
selama tiga hari, 3–5 September 2026, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian
menyambut Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September.
Festival tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat budaya membaca
masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital.
Bunda
Literasi Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, secara resmi membuka kegiatan
tersebut pada Jum'at (4/9/2026).
Kepala
Dispustakar Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan September telah
ditetapkan sebagai Bulan Gemar Membaca. Karena itu, pihaknya memanfaatkan
momentum tersebut untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya mengajak
masyarakat datang ke perpustakaan, tetapi juga membuat aktivitas membaca dan
belajar menjadi lebih menarik.
“Karena
itu kami mengadakan mini festival literasi selama tiga hari. Salah satu
agendanya adalah lomba cerdas cermat literasi tingkat SMP dan MTs,” kata Neny,
Kamis (3/9/2026).
Salah
satu magnet utama festival adalah bazar buku murah. Masyarakat dapat menemukan
berbagai pilihan buku dengan harga di bawah Rp100 ribu. Sejumlah buku terbitan
baru juga tersedia dengan potongan harga hingga 15 persen.
Bagi
masyarakat yang selama ini menjadikan harga sebagai pertimbangan untuk membeli
buku, bazar tersebut menjadi kesempatan untuk menambah koleksi bacaan dengan
harga yang lebih terjangkau.
Namun,
Mini Festival Literasi Balikpapan tidak berhenti pada aktivitas jual beli buku.
Pengunjung
juga dapat mengikuti beragam agenda yang telah disiapkan Dispustakar. Pada
Jumat (4/9/2026), misalnya, digelar pelatihan literasi digital bekerja sama
dengan Indosat.
Kemudian
pada Sabtu (5/9/2026), kegiatan dilanjutkan dengan bedah buku karya penulis
lokal Balikpapan.
“Selama
tiga hari masyarakat bisa menikmati berbagai kegiatan yang ada di Dinas
Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan. Silakan datang karena ada promo buku
murah dan juga UMKM,” ujar Neny.
Lebih
dari sekadar memperingati Bulan Gemar Membaca, festival ini diharapkan menjadi
pintu masuk untuk membangun kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
Neny
menilai budaya membaca memiliki peran penting dalam memperluas wawasan,
terutama bagi anak-anak dan generasi muda. Pengetahuan yang diperoleh melalui
aktivitas membaca diharapkan menjadi salah satu bekal dalam mempersiapkan
generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Antusiasme
masyarakat pun terlihat sejak hari pertama. Pelajar menjadi salah satu kelompok
yang cukup banyak memanfaatkan berbagai kegiatan yang tersedia.
Area
bazar buku murah dan sejumlah agenda literasi dipadati pengunjung. Respons
tersebut menjadi sinyal positif bagi Dispustakar untuk mengembangkan konsep
kegiatan serupa pada masa mendatang.
Neny
menyebut pelaksanaan tahun ini dapat menjadi embrio bagi agenda literasi yang
lebih besar.
“Ini
mungkin pertama kali, minimal menjadi embrio untuk kegiatan-kegiatan
berikutnya. Tadi Ibu Wali Kota juga berbincang dengan adik-adik pelajar yang
mengaku senang dengan adanya bazar buku murah dan kegiatan lainnya,” katanya.
Mini
festival ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan arsip daerah
kepada masyarakat melalui peluncuran Galeri Arsip Balikpapan.
Kehadiran
galeri tersebut memperluas fungsi Dispustakar sebagai tempat masyarakat
memperoleh pengetahuan. Jika perpustakaan identik dengan koleksi buku dan
aktivitas membaca, arsip menghadirkan jejak perjalanan daerah yang dapat
menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Dengan
rangkaian kegiatan tersebut, perpustakaan diharapkan tidak lagi dipandang
sebatas tempat meminjam atau membaca buku.(mid)